KARENA PEMILU ADALAH HIBURAN LIMA TAHUNAN MAKA HASILNYA ADALAH DEMOKRASI BAHAGIA

Daaaaaan hari yang ditunggu tiba juga. Kilas balik setahun ke 2018, ketika kami memulai mengikuti seleksi terbuka yang sangat ketat dan penuh persaingan sebagai anggota PPLN🤪. Dilanjutkan pelantikan dan bimbingan teknis oleh KPU Pusat di Kota Wina Austria dan Warsawa Polandia kami telah mantap kalau pena sejarah besar akam kami tulis, hajat besar ada di tangan kami maka kami harus berhasil melakukannya.

Masih ingat ketika mata kami lelah sekali memeriksa dengan cermat 6.000 nama yang ada pada data warga Indonesia pada Lapor Diri KBRI Berlin. Masih ingat tumpukan 3.000 pucuk surat yang kami kirimkan kepada pemilih meminta mereka memperbaiki data dirinya. Lalu satu persatu kami susun dalam daftar panjang Daftar Pemilih Sementara (DPS) hingga akhirnya proses akhir kami lahirkan sebuah Big Data berupa Daftar Pemilih Tetap, susunan nama warga Indonesia dengan alamat, tanggal lahir dan nomor identitas yang amat detail ada ditangan kami. Di akhir tahun 2018 sebuah buku tebal memuat sebanyak 2.342 identitas pemilih di Berlin, Brandenburg, Sachsen, Sachsen Anhalt, Thüringen dan Mecklenburg Vorpommern, kami happy saat itu seolah kami teöah menyusun legacy nama Indonesia by name by address yang amat berharga.

Tantangan besar muncul, pergerakan warga Indonesia di Jerman sungguh sangat amat dinamis, dalam enam bulan seseorang bisa berpindah dua atau tiga kota dan ini ibarat kucing memburu tikus yang tiba-tiba datang lalu mendadak sulit ketika dicari. Mereka dulu menetap di Berlin sekarang kabarnya sudah berada di Frankfurt tanpa melaporkan alamat barunya. Atau sebelumnya dia di Hamburg setahun kemudian dia menetap di Berlin.

Menyusun Daftar Pemilih Tetap ibarat mengejar bayangan pesawat, kami tak tahu pesawat apa yang bayangannya tampak tapi nama itu ada terlihat dalam daftar nama pada layar komputer kami. Setelah 12 bulan akhirnya susunan nama paling baru selesai kami sempurnakan. Sebanyak 2.184 nama kami pastikan tak ada kegandaan, mereka kami anggap tidak sedang berada di tiga DPT berbeda, mereka adalah orang-orang yang akan kami berikan surat suaranya melalui Pos maupun datang ke TPS.

Hari yang dinanti tiba, setelah semalam sebelumnya kami sengaja mengurangi tidur, sejak jam 5 pagi semua anggota PPLN dan KPPSLN sudah harus keluar rumah menuju Jugendgäste Stadtmission Berlin untuk menyiapkan semua kebutuhan acara. Pemilu 2019 adalah pertama kalinya sejarah baru dicatat, kami pertama kali membuka TPS di luar kantor KBRI mengingat jumlah suara yang 3 kali lipat pemilu lalu-lalu. Tahun ini pula menjadi Pemilu dengan jumlah TPS terbesar di Jerman, ini bukan hal mudah tapi tentu saja bukan tanpa cara menyukseskannya.

Ruangan hall seluas 400 m2 pelan pelan kami tata, meja dan kursi satu kami tarik satu persatu. Bilik dan kotak suara ditata dengan cantik beralas kain batik. Ruang TPS yang artistik kami dekorasi agar makin menarik. Paku coblos sudah siap bertatap muka dengan kertas suara Pilpres dan Pileg. Tepat 08.30 waktu Berlin Rapat Pemungutan Suara di 3 TPS dimulai satu persatu pemilih dengan C6 beraneka warna mengisi jalur antrian. Akhirnya lembar pertama surat suara yang dikirim dari Jakarta satu persatu dicoblos dan masuk ke dalam kotak suara. Hingga pukul 13.00 hampir tak ada antrian panjang karena strategi nomor antrian yang kami berikan bisa diikuti oleh pemilih sehingga distribusi pemilih hampir konsisten terjaga di setiap TPS tiap jam nya, ini metode temuan kami dan efektif disukai pemilih karena mereka tak berlama lama antri berdiri.

Pemilu di Berlin adalah momen berkumpulnya masyarakat Indonesia terbesar setiap lima tahun. Bagaimana tidak, sebanyak 1.372 orang, ditambah 200 orang lebih tambahan yang belum mendaftar sebelumnya akan menuju satu titik dalam durasi 10 jam. Tak berlebihan kalau kami selalu merasa lebih hebat dari event organizer pernikahan saking fokusnya kami mengatur pergerakan manusia dalam satu ruang dan waktu yang beriringan.

Dari ribuan wajah-wajah yang berpapasan ada raut-raut kepuasan terhadap metode pengaturan pemilih. Ada banyak sekali apresiasi yang tentang bagaimana ribuan manusia memasuki TPS tanpa antrian dan keluhan. Jurnalis DW TV menyebut pola antrian yang kami pakai membuat pemilih disiplin tehadap dirinya sendiri. Bapak Duta Besar Arif Havas Oegroseno melihat filtering identitas pemilih di meja PPLN sebelum masuk TPS sebagai “smart way to control human behavior” sehingga pergerakan pemilih bisa terus merata mengurangi komplen masyarakat 💃. Beberap saksi parpol bahkan menyebut strategi PPLN Berlin mengatur DPT, DPtb, DPK di satu jam terakhir yang kritis terhadap kericuhan dan protes bisa mengharmonikan sisa surat suara di KPPS dengan kondisi masa di luar sebagai strategi yang efektif. Over all kami dianggap paling siap untuk pemilu sebesar ini 🤩. Semua pujian ini terus terang membawa kami melambung tinggi membawa bahagia…tapi seperti kata pepatah kutub positif ada karena kekuatan negatif juga kuat. Ada pujian tentu ada kritik dan nyinyiran, kami happy dengan kombinasi keduanya. Mereka yang memberi kritik adalah sesungguhnya yang mencintai kami dengan jalan yang tak sama dengan kebanyakan lainnya karena mereka ketakutan kami tak bisa memperlakukan mereka dengan istimewa. Pemilu bukan soal siapa yang kalah dan siapa yang menang, bagi kami PPLN Berlin pemilu adalah piknik lima tahunan yang harus membawa kebahagiaan setelahnya.

#PPLNBerlin
#PemiluBahagia2019

Beberapa liputan media tentang Pemungutan Suara Pemilu 2019 yang dilaksanakan di Jugendgäste Hauptbahnhof Berlin pada tanggal 13 April 2019:

13 April 2019 adalah sejarah, melalui gambar dan aneka warna bisa bercerita bagaimana cerita lima tahunan ini (seharusnya) bisa membuat semua orang berbahagia.

« 1 of 2 »